Ekonomi Kerakyatan Hanya Isapan Jempol

March 16th, 2008

Banyak orang yang salah paham dengan wicara tentang ekonomi kerakyatan. Contohnya, seorang teman saya di Jakarta dulu. Jika sudah membantu usaha-usaha kecil sudah dengan sendirinya ia anggap menjalankan kebijakan ekonomi kerakyatan. Padahal yang ia lakukan, hanyalah fragmen kecil sistem ekonomi kerakyatan yang sejati.

Istilah “ekonomi rakyat” dan “ekonomi kerakyatan” adalah dua istilah yang sering dikaburkan. Para pemerintah, politisi, praktisi ekonomi, dan akademisi sekalipun sering salah “tanggap”. Karena itu kedua pengertian tersebut harus dipisahkan. Sebab ekonomi kerakyatan memang jauh lebih rumit dari sekadar itu membantu usaha kecil bermodal dan bervolume kecil pula.

Read the rest of this entry »

Resensi Mumpuni

March 13th, 2008

komunitas-tikar-pandan.jpg

Sangat menarik membaca “pertanggungjawaban publik” kawan-kawan Komunitas Tikar Pandan tentang sayembara resensi buku doKarim yang diselenggarakan baru-baru ini. Isu ketiadaan pemenang pertama telah menghantar kita ke wawasan luas nan bernas tentang kondisi resensi buku di bumi Aceh saat ini. Padahal, andai saja ada peserta yang berani mengambil peran sebagai juru timbang kadar buku yang diresensikan, bukan mustahil lahir juara pertama dalam sayembara tersebut. Tentu saja apabila sang juru timbang mampu menghadirkan satu atau beberapa perspektif yang dilandasi argumen-argumen yang kokoh dan masuk akal, seperti syarat minum dari para juri lomba.

Yang tidak cukup banyak dibahas dalam tulisan Azhari dan kawan-kawan yang berjudul “Timbangan doKarim” (Serambi, 24/02) adalah karakter apa yang memungkinkan seorang peresensi bisa menjadi juru timbang yang mumpuni lagi bertanggung jawab. Read the rest of this entry »

Mati Kelaparan = Kegagalan Negara

March 11th, 2008

daeng-basse-anak.jpgTercengang, sedih, lalu geram. Demikian reaksi saya membaca berita kematian seorang ibu yang sedang hamil 7 bulan di Makassar akhir Februari. Daeng Basse, ibu hamil itu meninggal setelah didera kelaparan berlarut-larut. Juga menderita diare berjam-jam sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir. Bahir, anaknya yang masih balita, akhirnya ikut pula menemani menghadap sang Khalik. Betapa sempurna penderitaanya!

Entah apa yang ia santap sehingga mencret puluhan kali. Saya bahkan tak sanggup membayangkan apa yang mampu ia jejalkan ke dalam perutnya, lalu terbuang kembali. Ibu ini tak punya apa-apa untuk dimakan. Dalam lapar dan keperihan perutnya, ia hanya terbaring hingga nafas terakhir.

Read the rest of this entry »

Dearest Bloggers!

March 11th, 2008

Alo bro!

Terima kasih sudah mampir di “ilhams.com: pieces of mind”. Blog ini adalah cerminan pikiran dan pengalaman saya. Lebih banyak mengangkat tema-tema sosial di sekitar kehidupan manusia. Beberapa di antara tulisan tersebut merupakan artikel atau kolom. Hanya sebagaian dalam bentuk feature atau berita.

Bagi yang gemar motor, silahkan kunjungi kembali kafemotor atau kafemotor.org.

Salam