Seniman Profetis dari Tanah Rencong

March 24th, 2008 | by ilham |

1.jpgEpisentrum UleeKareng (Komunitas Tikar Pandan) baru saja menggelar pameran lukisan Mahdi Abdullah. Perhelatan tersebut menarik perhatian media maupun penikmat seni, lantaran sang pelukis disebut-sebut sebagai salah satu yang terbaik. Pengakuan ini rasanya tidak berlebihan. Mahdi Abdullah adalah sedikit di antara pelukis Aceh, bahkan Indonesia, yang karya-karyanya pernah dipamerkan di luar negeri. Pertanyaan kita, apa yang membuatnya begitu menarik dan bernilai tinggi?

Pertanyaan di atas agaknya bisa lebih tuntas dijawab, jika kita menilai peran profetis seniman dalam dunia yang penuh masalah kemanusiaan. Meminjam Clifford Geertz, seorang mahaguru antropologi, lukisan-lukisan Mahdi Abdullah akan lebih bunyi, jika kita letakkan dalam kerangka seniman sebagai cultural broker.

Cultural Broker

Istilah cultural broker (pialang budaya) memiliki makna yang “positif” dalam khasanah ilmu-ilmu sosial. Ia berbeda, misalnya, dengan political broker atau economic broker yang cenderung berkonotasi “negatif”. Sementara political broker bermakna calo kekuasaan, cultural broker mengacu pada peran profetis pelaku dalam kehidupan. Istilah ini juga berbeda dengan financial/economic broker yang lebih berorientasi materialistis.

Peran yang dimainkan masing-masing cultural broker bisa berbeda-beda. Bergantung situasi historis—profesi, tempat, dan masa pelaku hidup. Namun demikian, ciri yang selalu ada adalah kemampuan sang pelaku memediasi secara timbal-balik suatu tatanan dunia ideal-kosmopolit dengan realitas masyarakat yang bersifat lokal dan sarat problematika.

Peran profetis seniman sebagai cultural broker dapat diilustrasikan sebagai dua sisi keping mata uang. Di salah satu sisinya, seniman bertugas sebagai pembimbing masyarakat. Melalui karya seni, ia mengajak manusia menghargai nilai-nilai luhur yang paling asasi dari kehidupan. Mencintai kebebasan alih-alih penjajahan; menyerukan kasih sayang ketimbang kebencian; memproklamasikan kearifan melawan kesempitan pikiran; mengargai keindahan-kehalusan budi versus banalitas-kekerasan hawa nafsu. Demikian seterusnya. Sebuah gerak vertikal dari dunia ideal ke dunia riil.

3.jpgPada sisi keping koin yang lain, seniman memainkan peran sebagai pendengar dan pewarta zaman. Ia peka terhadap kejadian kehidupan. Mendengar rintihan warga, yang yang hina, yang papa, yang teraniaya. Ia mengekspose zaman yang menggilas orang-orang kecil. Yang mengombang-ambing kehidupan massa. Ia mengritik dunia yang culas dan korup, menyorot lembar kelam kehidupan. Sebuah gerak inversi dari dunia rill ke dunia ideal, dari rakyat agar didengar para penguasa.

Singkatnya, seniman menjadi budayawan par excellence. Ia hidup secara nyata bersama masyarakat, namun tidak tenggelam dalam lumpur kepicikan dunia. Ia merasakan penderitaan dan aspirasi sesamanya, namun tak larut dalam logika massa. Seniman adalah sosok yang senantiasa mampu melakukan “transendensi”. Ia melampaui keterbatasan historis zaman, sehingga mampu memotret masalah secara lebih jernih-berjarak. Pada gilirannya, ia akan menghasilkan karya yang merefleksikan situasi historis yang konkret, pun tak abai nilai-nilai abadi-universal.

Bahasa Seniman

Seniman dalam citra ini tidak lagi mengejar tujuan “art pour l’art”, seni demi seni. Yang memuja keindahan setinggi langit, lalu tercerabut dari dunia nyata. Karyanya bukan kreasi yang lahir dari ruang hampa budaya yang tak memiliki preseden dalam kehidupan. Karyanya justeru merefleksikan apa yang ia dengar, lihat, dan alami. Yang dengan kekuatan imajinasi dan kelihaian artistik, sang seniman mampu meramunya dalam bentuk-bentuk estetis yang menyentuh dan menggerakkan.

Mencermati sapuan kuas Mahdi Abdullah, kita segera memahami kelebihan karya-karyanya. Keunggulannya bukan semata-mata hadir dalam bentuk-bentuk figuratif yang demikian presisi. Yakni sebuah kemampuan menghadirkan realisme objek-objek mendekati kenyataan sesungguhnya. Lebih dari itu, ia mampu mendeskripsikan kenyataan sosio-kultural ke-Aceh-an yang begitu kompleks dalam bahasa visual yang kaya, namun mudah dipahami. Sebuah eksposisi seni yang dalam bahasa kurator Merwan Yusuf disebut realisme-deskriptif.

Pendekatan seniman seperti ini membedakannya dari para cultural broker lain. Seniman menggunakan bahasa seni yang halus, namun tak kurang menusuk. Seniman memiliki kemampuan aktualisasi estetika yang luar biasa. Ia menyampaikan bimbingannya dalam bahasa simbolik. Sebuah medium yang multitafsir. Yang dengannya penikmat meraih apa yang mungkin dicapainya berdasarkan kedalaman apresiasi masing-masing. Tanpa perlu mendikte, mengajak manusia menyibak pesan yang ingin disampaikan melalui beragam lapisan pengertian.

Peran profetis bagi seniman tidak dilakukan dengan berkhotbah, laiknya agamawan. Bukan pula dengan “memaksakan”, layaknya legislator dan ahli hukum. Seniman memainkan perannya secara halus. Ia menyentuh jiwa pelaku kejahatan dan aparat korup dengan tajam tanpa melukai. Yang memperhalus budi manusia yang bebal, menggerakannya untuk mendengar nurani dan menuju kebajikan.

Mahdi Abdullah

Mahdi Abdullah adalah sosok yang bersahaja. Kesahajaan yang mendekatkannya kepada orang-orang kecil yang menjadi figur lukisannya. Yang membuatnya menjadi telinga dan mata batin manusia kebanyakan. Masyarakat yang pedih dan menderita, yang mendamba kesembuhan dan kebahagiaan.

Dalam sebuah kesempatan, sang pelukis berungkap, “Saya memperoleh inspirasi di mana-mana, dari manusia, dari masyarakat.” Di lain waktu ia mengakui dirinya sebagai “orang bawah”, yang bergaul dengan orang kebanyakan. Yang memotret mereka selagi duduk bersama dan berbicara dengan mereka. Yang ikut merasakan apa yang rakyat rasakan.

Perjumpaan kami di sebuah kedai kopi di kawasan Ulee Kareng memberi kesan mendalam. Rupanya sang seniman mengenal tempat saya bekerja. Namun alih-alih membanggakan karya karikaturnya yang saban dwi-minggu terbit di tabloid kami, ia justru merendah. “Dulu saya ikut bantu-bantu mengatur meja-kursi di sana,” ungkapnya. Menyentuh, karena sumbangsihnya jauh lebih fundamental dari sekadar urusan tata-menata barang.**

Goresan jemari Mahdi Abdullah telah menjadi sebuah ikhtiar dalam “menata” Aceh yang lebih baik dalam pengertian yang paling hakiki. Historisisme lukisan dan juga kritisisme karikaturnya, mengajak kita mendengarkan kembali suara hati nurani. Mari berkaca dari kanvas sang pelukis. Semoga terus lahir seniman profetis dari rahim bumi Aceh yang kaya ini.

  1. 5 Responses to “Seniman Profetis dari Tanah Rencong”

  2. By arif on Mar 25, 2008 | Reply

    Mengapa arti pialang budaya bisa berbeda dari pialang politik atau pialang ekonomi?

  3. By ilham on Mar 26, 2008 | Reply

    ini adalah pembicaraan yg halus…

    1) pialang budaya adalah fungsi/peran… jika seorang pialang budaya tergoda kuasa atau materi, ia bisa kehilangan perannya itu…
    2) pialang politik dan pialang ekonomi adalah status… fungsinya maksimasi… fungsi ini selalu melekat dalam statusnya.
    3) jika SEORANG pialang politik atau pialang ekonomi meninggalkan fungsinya, boleh dibilang statusnya juga hilang… sementara peran pialang budaya bisa saja hilang dari katakan, seorang seniman, kyai, atau guru, tp tidak serta merta ia kehilangan statusnya itu.

  4. By by adi on 4 juni 2008 on Jun 4, 2008 | Reply

    karya loe keren abis…! leh tau loe tinggal di mana..?

  5. By muhib on Jul 30, 2008 | Reply

    saleum dar atjeh
    mantap that blog nyoe….

    bangkitlah tanah rencong, perkenalkan ke dunia internasional melalui website anda.

  6. By —¤(rida)¤— on Sep 26, 2008 | Reply

    hanya dua kata.. keren abis
    keren.. keren abis karyanya..

Post a Comment