Sakit tanpa Terobati

March 18th, 2008 | by ilham |

Tesis bahwa negara kita lalai terhadap warganya agaknya belum perlu dicabut. Setelah Daeng Basse di Makassar, kini Iis di Jakarta (5 hari lalu). Belum luput kepiluan kita melihat tayangan berita di TV maupun berita di koran tentang Basse ibu hamil 7 bulan yang meninggal kelaparan. Anda harus mengusap lagi dada dengan kematian Iis akibat sakit yang tanpa terobati.

Iis yang sempat sakit lima hari di rumahnya akhirnya dijemput maut. Iis yang merupakan warga miskin tak mampu, atau tepatnya tak berani berobat. Padahal sakit gangguan pada tenggorokannya (gondongan) sangat akut Ia tak mampu makan karenanya. Belum lagi demam panas yang ditimbulkan akibat sakitnya itu.

Hingga meninggal, tak ada bantuan pengobatan ataupun uluran tangan tetangganya. Seperti juga banyak kaum miskin lain di Indonesia, Iis sekeluarga tidak memiliki kartu miskin dari Pemkot setempat karena berkartu penduduk Cirebon. Padahal ini merupakan program pemerintah bersama askeskin.

Uluran tangan justru datang setelah ia meninggal. Termasuk untuk biaya sewa mobil yang membawanya pulang kampong di Cirebon, Jawa Barat. Ironi yang sama juga terjadi pada Basse yang akhirnya berlimpah bantuan setelah ia dan anaknya wafat.

Ingatlah bahwa kematian seperti ini semakin mungkin terjadi. Kaum miskin di Indonesia mencapai 35juta jiwa. Namun versi lain mengatakan dua atau tiga kali lipat. Dan umumnya kaum miskin, adalah mereka yang kurang fasilitas untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, seperti kesehatan, kesehatan, dan pangan-sandang. Kalaupun fasilitas itu ada, maka mereka seringkali kekuarangan informasi. Dan apabila informasi itu ada, mereka adalah makhluk Tuhan yang seringkali harus kecewa dengan kualitas pelayanan buruk dan tak ramah. Sampai kapan Om?

  1. 6 Responses to “Sakit tanpa Terobati”

  2. By nadi on Mar 18, 2008 | Reply

    Hmmm…jadi ingat ama orang yang berkali-kali naik haji, sementara di seberangnya ada orang kelaparan. BTW, sampeyan di Aceh berkecukupan makan to? Hehehehe…..

  3. By cucu pahlawan '45 on Mar 19, 2008 | Reply

    Meninggalnya Basse tidak sepenuhnya disebabkankan oleh kelalaian negara (maksudnya pemerintah, bang?). Saya pikir, ada beberapa faktor kenapa Basse meninggal..
    1. Ajal
    2. Ketidak pedulian masyarakat sekitar
    3. Kurangnya pelaksanaan zakat dan sedekah
    4. Politikus yang sibuk menghamburkan energinya untuk mempertahankan martabatnya
    5. Pejabat yang terlalu sibuk memperkaya dan mempertahankan hartanya
    6. Dan masyarakat yang gemar mencemooh dan tidak gemar bersedekah

    Tapi, itu cuma pikiran saya, bang…belum tentu bener

    @Bung Nadi
    jangan bawa ibadah haji, kritik aja yang gemar ke luar negeri untuk berfoya-foya, generasi muda kita yang hedonis. Kalau yang berkali-kali haji, bisa ajah dia punya usaha dibidang Bimbingan haji. Shalom…

  4. By aya electro on Mar 20, 2008 | Reply

    bantuan tak seharusnya datang terlambat.

  5. By ilham on Mar 26, 2008 | Reply

    betul… jaring pengaman sosial kita ga sensitif, belum optimal

  6. By tuxer on Mar 27, 2008 | Reply

    Kalo mengharapkan pemerintah dengan program - programnya kayanya bakal sulit berubah, karena orang - orang di atas hanya perduli dengan bokong mereka agar tetap duduk di kursi yang empuk, mungkin dalam hal ini kitalah yang mesti mengambil aksi dan bukan hanya opini… **padahal komen ini pun hanya opini, jadi malu**

  7. By ario,putra sang fajar on Apr 2, 2008 | Reply

    Pusing…….. miris……dilematis…….tragis……sadis…….berdo’a untuk negeri sembari memperbaiki diri. Tiada kata selain REVOLUSI menuju kemerdekaan hakiki!!!

Post a Comment