Resensi Mumpuni
March 13th, 2008 | by ilham |Sangat menarik membaca “pertanggungjawaban publik” kawan-kawan Komunitas Tikar Pandan tentang sayembara resensi buku doKarim yang diselenggarakan baru-baru ini. Isu ketiadaan pemenang pertama telah menghantar kita ke wawasan luas nan bernas tentang kondisi resensi buku di bumi Aceh saat ini. Padahal, andai saja ada peserta yang berani mengambil peran sebagai juru timbang kadar buku yang diresensikan, bukan mustahil lahir juara pertama dalam sayembara tersebut. Tentu saja apabila sang juru timbang mampu menghadirkan satu atau beberapa perspektif yang dilandasi argumen-argumen yang kokoh dan masuk akal, seperti syarat minum dari para juri lomba.
Yang tidak cukup banyak dibahas dalam tulisan Azhari dan kawan-kawan yang berjudul “Timbangan doKarim” (Serambi, 24/02) adalah karakter apa yang memungkinkan seorang peresensi bisa menjadi juru timbang yang mumpuni lagi bertanggung jawab.
Benar tulisan tersebut berhasil mengkritisi kondisi-kondisi yang menyebabkan kurangnya mutu peresensi di Tanah Rencong. Ketiadaan tradisi kritik, keterbatasan akses ke tradisi resensi dunia, dan kurangnya ruang di media lokal bagi aktualisasi diri para peresensi memang menjadi faktor. Namun hemat kami, tak kurang penting digali kualitas seperti apa yang dibutuhkan seorang peserta resensi untuk menjadi jawara. Toh dialektika antara kondisi yang melatarbelakangi dan dan sikap intelektual dari peresensilah yang membentuk karya resensi yang lahir kemudian, termasuk dalam kasus sayembara resensi buku doKarim.
Apresiasi
Semakin sulit memang menemukan sifat-sifat apresiatif pada diri pembaca di zaman sibuk dan serba instan. Buku dibeli karena tugas sekolah/kuliah atau tuntutan pekerjaan saja. Bisa juga sekadar ikut tren, agar tak ditinggal kawan gaul. Segalanya bersifat pragmatis belaka.
Di lain pihak, orang-orang yang terdidik secara formal sering pula mengembangkan sikap mental yang berlebihan terhadap sebuah karya sastra. Sebuah buku, misalnya, entah dianggap barang rendahan atau, sebaliknya, dihadapi sebagai misteri yang terlalu pelik. Kedua sikap tersebut bersifat apriori sehingga penilaian muncul sebelum kegiatan membaca/meresensi hadir. Padahal membangun sikap penghargaan terhadap buku justru dapat memberi pencerahan dan membuka tabir makna yang kaya.
Layaknya malam apresiasi puisi, ada pula “malam-malam” apresiasi buku. Yakni saat-saat seorang pembaca mencoba memahami isi buku dengan sepenuh hati. Buku itu bagaikan manusia. Saat ia selesai dituliskan, ia memiliki kaki, tangan, mata, dan mulutnya sendiri. Ia akan ke mana-mana dengan lantang mengutarakan dirinya apabila kita cukup berusaha “mengintrogasi” atau berdialog dengannya. Tanpa apresiasi yang cukup, sang buku akan mengatup bibir, menutup maknanya dari pembaca, dan kita tak bisa ke mana-mana lagi.
Dalam upaya memahami isi buku tidak cukup seseorang membaca satu atau dua bahagian isi buku saja lalu merasa sudah cukup memahaminya. Sebab ia akan jatuh pada kesimpulan-kesimpulan prematur. Baiknya ia membaca secara keseluruhan, mengikuti alur kisah dan argumen-argumen yang bertarung di dalamnya. Dalam pada itu pula ia berusaha menangkap keseluruhan dari inti gagasan/pesan penulis dengan terlebih dahulu menandai soal-soal penting di setiap babakan isi buku tersebut.
Mengutip Rodman Philbrick, seorang guru resensi yang juga buka kursus online, “yang perlu peresensi lakukan adalah mengutarakan apa yang ia rasakan tentang sebuah buku dan mengapa demikian. Bukan sekadar menulis tentang apa yang dibahas buku itu.” Dengan cara demikian, resensi yang baik mengungkapkan penilaiannya sehingga mampu membujuk orang lain membaca atau tidak membaca buku tersebut.
Sikap Kritis
Selain apresiasi, resensi juga perlu sikap kritis. Ibarat sepotong kue lapis, sebuah buku bisa dinikmati menurut selera orang. Dapat dilahap berdasarkan urut-urut lapisan kue yang ia senangi, atau tidak beraturan sama sekali. Cara penulis membangun gagasan, struktur, dan gaya penulisan buku bagaikan cara ia menyajikan kue lapis tersebut. Sementara cara kita mencicipi layaknya cara membikin resensi.
Resensi bukanlah iktisar buku. Tidak tepat bagi peresensi menyajikan ulang isi buku dalam versi mini. Tidak akan menambahkan apa-apa, kecuali ia hanya akan mereduksi muatan buku yang kaya. Layaknya syarah atas syarah pada matan sebuah kitab, ikhtisar atas ikhtisar matan pun sangat berbahaya bagi ekstensi makna yang tiada berujung.
Tidak perlulah tingkat kritik tersebut memasuki wilayah semiotik atau analisis wacana dan berbagai kritik sastra yang demikian canggih itu. Kita sepakat dengan kawan-kawan di Komunitas Tikar Pandan bahwa peresensi yang baik cukuplah mampu menunjukkan penilaian—posisi subyektif—nya terhadap sebuah buku. Yang lebih penting adalah keberanian seorang peresensi membuat kesimpulan mengenai kesannya terhadap sebuah buku. Baik-buruknya penilaian dibangun dengan menghadirkan alasan-alasan yang mampu ia tangkap dari pesan buku dan kebutuhan/kepentingan pembaca terhadapnya.
Karakter dan Kompetensi
Jika saksama kita cermati, banyak sekali resensi yang sangat miskin apresiasi dan sifat kritis bertebaran di berbagai media. Kecuali pada media-media terkemuka yang penuh perhatian dan banyak duduk ahli, tiada lagi resensi yang unggul di sana. Tak jarang ditemukan resensi yang jika bukan jiplakan kata pengantar, endorsment, dan ringkasan isi buku, pastilah karangan-karangan rendah mutu. Yang pertama merupakan korupsi intelektual, yang kedua adalah kekerdilan pemikiran.
Yang diperlukan saat ini bukan saja tersedianya ruang-ruang bagi “teraju” buku. Tapi juga awak gawang dengan konsentrasi penuh terhadap resensi-resensi yang masuk. Bagi koran, tabloid, dan majalah yang masih kikir ruang resensi, tentu tugasnya ganda. Pertama-tama menjadi kewajiban moralnya membuka rubrik resensi yang cukup luas dan berkelanjutan. Sementara bagi yang sudah dermawan halaman resensi, saatnya menjaga benar kualitas tulisan yang dipublikasikan. Pengalaman kami beberapa tahun menilai resensi yang dipublikasikan di media menunjukkan banyaknya resensi yang asal comot dari buku aslinya. Resensi semacam itu adalah pembodohan, alih-alih memberi pencerahan.
Kembali ke duduk soal yang kita bicarakan, inilah saat yang tepat membangun dunia resensi yang sehat. Seiring semangat “menimbang” buku yang semakin bergairah, dasar-dasar pembangunan karakter dan kompetensi resensor pun perlu diletakkan. Jangan pula para peresensi teriak “lawan korupsi!!!”, namun tulisan-tulisan yang dibuatnya tak luput dari korupsi intelektual. Hal yang hanya bisa dilakukan dalam ruang-ruang kontemplasi dan diskusi bebas-terbuka seperti yang idam-idamkan dalam tulisan Azhari dan kawan-kawan selama ini. Dengan cara demikian kita bisa berharap lahirnya resensi-resensi yang mumpuni dan juga bisa dipertanggungjawabkan secara intelektual.[]
- Sumber Tulisan: http://serambinews.com/old/index.php?aksi=bacabudaya&budid=49
- Sumber Gambar: http://bp0.blogger.com/_r5B97w-Ioo8/R15G9ZYjxHI/AAAAAAAAAAM/7gJsN-I9a5A/s320/pkrundangan.jpg

2 Responses to “Resensi Mumpuni”
By Mbelgedez on Mar 13, 2008 | Reply
Boss Ilham lupa nyantumin.
Ada buku nyang dibeli dengan harga berpuluh juta, Hard Cover Edition, nyang fungsinya hanya sebagai penghias ruang tamu orang-orang kaya…
!!!
By ilham on Mar 15, 2008 | Reply
Benar bung!!! Tp itu bagian dari bisnis, sekaligus penghargaan kepada pengarangnya. Namun emang sayang juga kalo buku mahal begitu ga dibaca…